Piru, INFO_PAS — Proses perubahan warga binaan tidak hanya dibangun melalui keterampilan, tetapi juga melalui penguatan mental dan spiritual. Hal tersebut terus didorong Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Piru melalui pembinaan kerohanian bersama Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Seram Bagian Barat di Masjid Nurul Hijrah, Kamis (3/9).
Mengangkat tema “Rahasia Dahsyatnya Istighfar”, pembinaan diikuti warga binaan Muslim dengan penekanan pada pentingnya istighfar sebagai bentuk introspeksi, memohon ampun kepada Allah SWT, serta membangun tekad untuk memperbaiki diri. Materi tersebut diharapkan dapat memberikan penguatan spiritual sekaligus motivasi bagi warga binaan selama menjalani masa pembinaan.
Kepala Seksi Bimbingan Narapidana dan Kegiatan Kerja Lapas Piru, Muh. Ramdhan Basir, mengatakan pembinaan kerohanian diarahkan untuk memberikan fondasi moral yang dapat diterapkan warga binaan dalam kehidupan sehari-hari.
“Melalui tema tentang dahsyatnya istighfar, kami ingin warga binaan memahami bahwa memperbaiki diri selalu dimulai dari kesadaran untuk mengakui kesalahan dan memohon ampun. Nilai tersebut diharapkan dapat mendorong perubahan yang nyata dalam sikap dan perilaku,” ujar Ramdhan.
Perwakilan Kemenag SBB, Umi Samiun, menyampaikan bahwa istighfar bukan hanya ungkapan permohonan ampun, tetapi juga menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menumbuhkan harapan.
“Ketika seseorang membiasakan istighfar, ia diajak untuk terus mengingat Allah sekaligus mengevaluasi dirinya. Kami berharap warga binaan dapat menjadikan istighfar sebagai bagian dari proses memperbaiki hati, sikap, dan kehidupan mereka,” tutur Umi.
Salah satu warga binaan berinisial D mengaku tema yang disampaikan memberikan pelajaran berharga untuk lebih banyak melakukan introspeksi.
“Tema ini membuat saya berpikir kembali tentang kesalahan yang pernah dilakukan. Saya ingin menjadikan istighfar bukan hanya sebagai ucapan, tetapi sebagai pengingat untuk berubah dan tidak mengulangi kesalahan yang sama,” ungkap D.
Kepala Lapas Piru, Hery Kusbandono, menegaskan bahwa pembinaan mental dan spiritual menjadi bagian penting dalam mempersiapkan warga binaan kembali ke masyarakat.
“Pemasyarakatan harus memberikan ruang bagi warga binaan untuk berubah secara utuh. Pembinaan kerohanian menjadi salah satu fondasi untuk membangun kesadaran, memperbaiki perilaku, dan mempersiapkan mereka menjalani kehidupan yang lebih baik setelah kembali ke masyarakat,” pungkas Hery.
Melalui pembinaan kerohanian yang dilaksanakan secara berkelanjutan, Lapas Piru bersama Kemenag SBB terus menghadirkan ruang pembelajaran dan refleksi bagi warga binaan sebagai bagian dari upaya membangun pribadi yang lebih baik, bertanggung jawab, dan siap menjalani proses reintegrasi sosial.
Kontributor : Humas Lapas Piru

Leave a Reply